The Department of Biology

Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Indonesia

Mahasiswa FMIPA UI Pelajari Geoteknik dan Mitigasi Banjir di Bendungan Kering Ciawi-Sukamahi

Depok, 2 Juni 2026 — Di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem dan ancaman banjir di berbagai wilayah Indonesia, pemahaman mengenai geologi teknik dan pengelolaan sumber daya air menjadi semakin penting. Infrastruktur pengendali banjir seperti bendungan tidak hanya berfungsi sebagai sarana mitigasi bencana, tetapi juga menjadi laboratorium lapangan bagi calon geolog untuk memahami keterkaitan antara kondisi geologi, rekayasa teknik, dan keselamatan masyarakat.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Program Studi Geologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) melaksanakan kuliah lapangan Mata Kuliah Geologi Teknik di kawasan Bendungan Kering (Dry Dam) Ciawi dan Sukamahi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (23/5/2026).

Kegiatan ini bertujuan memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai geologi teknik, geoteknik bendungan, serta sistem pengelolaan banjir yang diterapkan di Indonesia. Selain menjadi sarana pembelajaran langsung di lapangan, kegiatan ini juga memperkenalkan berbagai tantangan teknis dan geologis yang dihadapi dalam pembangunan maupun pengelolaan infrastruktur sumber daya air.

Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala Unit Pengelola Bendungan (UPB) I Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane, Ir. Prahasdipta Bayu Adhi Koesoemo, S.T., dan perwakilan Program Studi Geologi FMIPA UI. Dalam kesempatan tersebut, kedua pihak menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan instansi pengelola infrastruktur untuk mendukung pengembangan ilmu geologi terapan di Indonesia.

Bayu mengatakan pembelajaran di lapangan menjadi bagian penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan pengelolaan sumber daya air pada masa mendatang.

“Bendungan tidak hanya merupakan infrastruktur pengendali banjir, tetapi juga sarana pembelajaran yang sangat baik untuk memahami bagaimana aspek geologi, geoteknik, dan rekayasa bekerja secara terpadu. Kami berharap mahasiswa dapat melihat langsung penerapan ilmu yang dipelajari di kelas sekaligus memahami tantangan nyata dalam pengelolaan risiko bencana hidrologi di Indonesia,” ujar Bayu.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kuliah umum yang menghadirkan sejumlah narasumber dari BBWS Ciliwung Cisadane dan tenaga ahli bendungan. Materi pertama bertajuk Filosofi Banjir disampaikan oleh Pembina BBWS Ciliwung Cisadane, Rafii, S.T.

Dalam paparannya, Rafii menjelaskan bahwa banjir merupakan bagian dari proses alami dalam siklus hidrologi. Tantangan utama bukan menghilangkan banjir sepenuhnya, melainkan mengelola risiko dan dampaknya melalui perencanaan yang baik, pembangunan infrastruktur yang memadai, serta peningkatan kesadaran masyarakat.

“Banjir tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi risikonya dapat dikelola dengan perencanaan dan kesiapsiagaan yang tepat,” kata Rafii.

Selanjutnya, Bayu memaparkan sistem pengelolaan banjir melalui konsep dry dam yang diterapkan pada Bendungan Ciawi dan Sukamahi. Menurut dia, perencanaan bendungan harus mempertimbangkan berbagai skenario banjir, mulai dari kejadian yang berulang setiap puluhan tahun hingga banjir maksimum yang secara teoritis dapat terjadi.

Ia menjelaskan konsep siklus banjir 50 tahunan, 100 tahunan, hingga possible maximum flood yang menjadi dasar dalam perencanaan kapasitas dan keamanan bendungan untuk menghadapi potensi banjir ekstrem.

“Bendungan harus dirancang untuk menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk kejadian banjir paling ekstrem yang mungkin terjadi,” ujarnya.

Sesi berikutnya membahas aspek geoteknik bendungan yang disampaikan tenaga ahli bendungan, Buhori, S.T. Ia menjelaskan bahwa aspek geoteknik menjadi fondasi utama dalam pembangunan bendungan. Karakteristik tanah dan batuan harus dipahami secara menyeluruh agar struktur yang dibangun dapat memenuhi standar keamanan dan berfungsi optimal dalam jangka panjang.

“Keberhasilan bendungan dimulai dari pemahaman yang tepat terhadap kondisi tanah dan batuan di lokasi pembangunan,” kata Buhori.

Setelah sesi kuliah umum, mahasiswa melakukan observasi lapangan di sejumlah titik strategis di kawasan bendungan. Pada lokasi pertama di area inlet Bendungan Ciawi, peserta mempelajari proses aliran air di dalam tubuh bendungan serta kondisi geologi setempat, termasuk singkapan batuan yang tampak pada dinding bendungan.

Kunjungan kemudian berlanjut ke area crest Bendungan Ciawi. Di lokasi ini, mahasiswa memperoleh penjelasan mengenai sistem pemantauan dan pemeliharaan bendungan yang berperan penting dalam menjaga keamanan serta keberlanjutan fungsi bendungan dalam jangka panjang.

Usai istirahat, kegiatan dilanjutkan menuju Bendungan Sukamahi. Pada lokasi ketiga yang berada di area crest bendungan, mahasiswa mempelajari perbedaan metode konstruksi dan tantangan teknis antara Bendungan Ciawi dan Sukamahi. Buhori menjelaskan material timbunan Bendungan Sukamahi didatangkan dari luar wilayah setempat karena adanya perbedaan tingkat kecuraman desain dibandingkan Bendungan Ciawi.

Kegiatan ditutup dengan kunjungan ke spillway Bendungan Sukamahi. Di lokasi ini, mahasiswa mempelajari mekanisme limpasan air saat terjadi debit banjir tinggi serta fungsi spillway dalam mencegah terjadinya overtopping yang dapat mengancam stabilitas bendungan.

Melalui kuliah lapangan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman belajar secara langsung di lapangan, tetapi juga memahami bagaimana konsep geologi teknik, geoteknik, dan mitigasi bencana hidrologi diterapkan pada infrastruktur strategis nasional. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa mengenai peran ilmu geologi dalam mendukung pengelolaan sumber daya air serta upaya pengurangan risiko bencana di Indonesia.

Bagikan ini ke:
Facebook
LinkedIn
Telegram
X
WhatsApp