The Department of Biology

Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Indonesia

Pakar FMIPA UI: Anak Krakatau Sedang Membangun Kembali Material Tubuh Gunung, dan luruskan isu “Pipa Magma Raksasa”

Depok, 17 September 2026 — Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah erupsi yang terjadi pada awal September 2026. Pakar vulkanologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Asri Oktavioni Indraswari, S.T., M.Sc., D.Phil., menjelaskan bahwa Anak Krakatau saat ini berada dalam fase membangun kembali material tubuh gunung yang hilang akibat longsoran saat erupsi 2018.

Asri menjelaskan, Anak Krakatau yang mulai muncul pada 1929 mengalami proses pembentukan tubuh gunung secara bertahap hingga erupsi 2018 memicu longsoran material ke laut dan menyebabkan tsunami Selat Sunda.

“Setelah longsor dan membuat tsunami, gunung kehilangan materialnya. Sekarang sedang membangun lagi material yang hilang saat longsor,” ujar Asri dalam program KEPO TRANS7.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat skenario tsunami serupa dengan 2018 tidak dapat serta-merta disamakan dengan kondisi Anak Krakatau saat ini. Material yang sebelumnya longsor ke laut telah hilang sehingga kemungkinan terjadinya tsunami dengan mekanisme serupa saat ini relatif kecil.

Meski demikian, Asri menekankan bahwa aktivitas gunung api tetap sulit diprediksi secara pasti. Erupsi dapat kembali terjadi setelah gunung memasuki periode relatif tenang.

“Bukan berarti sekarang istirahat, terus benar-benar tidak akan ada aktivitas lagi. Ada kemungkinan dia bisa aktif lagi,” katanya.

Ia mengatakan, pemantauan aktivitas Anak Krakatau saat ini juga didukung sistem monitoring yang lebih baik dibandingkan kondisi sebelum erupsi 2018. Sistem pemantauan secara real time memungkinkan perubahan aktivitas gunung api diamati secara lebih cepat.

Asri juga menanggapi munculnya anggapan di media sosial mengenai adanya “pipa magma raksasa” yang menghubungkan sejumlah gunung api di Indonesia setelah enam gunung api dilaporkan mengalami erupsi pada hari yang sama, 6 September 2026.

Ia menjelaskan, secara geologi, sistem magma pada gunung-gunung api tersebut umumnya terisolasi karena letaknya yang berjauhan. Kesamaan waktu erupsi tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan langsung di bawah permukaan.

“Secara teori di geologi biasanya akan terisolasi. Kemungkinan besar sistemnya masing-masing sendiri,” ujar Asri.

Menurut Asri, aktivitas sejumlah gunung api pada waktu yang berdekatan lebih tepat dipahami sebagai kejadian yang dapat berlangsung secara bersamaan karena probabilitas, bukan akibat satu sistem magma raksasa yang menghubungkan seluruh gunung api tersebut.

Ia menambahkan, aktivitas gunung api sebenarnya berlangsung setiap hari dengan tingkat aktivitas yang berbeda-beda. Erupsi yang terjadi di lokasi yang lebih dekat dengan permukiman atau memiliki skala lebih besar cenderung lebih mudah dirasakan dan mendapat perhatian publik, sehingga kemudian muncul anggapan bahwa aktivitas gunung-gunung tersebut saling berkaitan,

“Cuma memang sorotannya kebetulan bersamaan dengan Krakatau, jadi lebih dihubung-hubungkan,” imbuhnya.

Asri mengatakan, keberadaan sistem pemantauan yang semakin baik menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi dinamika gunung api di Indonesia. Data pemantauan dapat digunakan untuk mengetahui perubahan aktivitas gunung, meskipun tidak dapat memastikan secara mutlak apa yang akan terjadi pada masa mendatang.

Bagikan ini ke:
Facebook
LinkedIn
Telegram
X
WhatsApp