The Department of Biology

Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Indonesia

Prof. Supriyanto Pimpin SEAFOMP dan Tim Ahli BAPETEN, Perkuat SDM Serta Kolaborasi Fisika Medis Asia Tenggara

Depok, 9 Maret 2026 – Guru Besar Bidang Ilmu Fisika Radioterapi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Prof. Supriyanto Ardjo Pawiro, M.Si., Ph.D., FIOMP, resmi terpilih sebagai Presiden Southeast Asia Federation of Organizations for Medical Physics (SEAFOMP) untuk periode 2025–2028. Pengumuman ini disampaikan melalui laman resmi organisasi tersebut.

Selain itu, ia juga dipercaya menjabat sebagai Ketua Tim Tenaga Ahli Uji Kesesuaian di Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) pada tahun 2026. Penugasan ini tertuang dalam Keputusan Kepala BAPETEN Nomor 2721 Tahun 2025.

Dalam wawancara bersama tim Humas FMIPA UI, Prof. Supriyanto menegaskan bahwa salah satu prioritas utamanya selama memimpin SEAFOMP adalah meningkatkan kapasitas serta kualitas sumber daya manusia di bidang fisika medis di kawasan Asia Tenggara. Ia juga menyoroti pentingnya mengurangi kesenjangan jumlah fisikawan medis dibandingkan dengan jumlah penduduk di negara-negara ASEAN.

“Peningkatan kapasitas dan kualitas sumber daya fisika medis di kawasan ASEAN menjadi prioritas, termasuk meminimalkan kesenjangan jumlah fisikawan medis terhadap jumlah penduduk,” ujarnya.

SEAFOMP memiliki peran strategis sebagai wadah kolaborasi bagi para profesional fisika medis di Asia Tenggara. Organisasi ini menjadi forum untuk bertukar gagasan dan merumuskan solusi atas berbagai tantangan pengembangan fisika medis, mulai dari pendidikan, penelitian, hingga pendidikan keprofesian.

Pada periode kepemimpinannya, Prof. Supriyanto akan bekerja bersama jajaran eksekutif SEAFOMP lainnya, yakni Kitiwat Khamwan, Ph.D. dari Chulalongkorn University yang mewakili Thai Medical Physicist Society sebagai Vice President; Ramon Carlo L. Cruzpero, M.Sc. dari Philippine General Hospital dan University of the Philippines yang mewakili Society of Medical Physicists in the Republic of the Philippines sebagai Secretary General; serta Taweap Sanghangtum, Ph.D. dari King Chulalongkorn Memorial Hospital yang mewakili Thai Medical Physicist Society sebagai Treasurer.

Di Indonesia, perkembangan bidang fisika medis menunjukkan kemajuan signifikan dalam satu dekade terakhir. Jumlah fisikawan medis meningkat hingga empat kali lipat dibandingkan sepuluh tahun lalu. Namun, menurut Prof. Supriyanto, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, kebutuhan tenaga fisikawan medis masih cukup besar. Selain itu, kesenjangan kualitas sumber daya manusia antara wilayah Jawa dan luar Jawa juga masih menjadi tantangan.

Tantangan lain muncul seiring dengan program ekspansi fasilitas radioterapi oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Program ini menargetkan peningkatan cakupan fasilitas radioterapi dari sekitar 50 persen provinsi menjadi hampir 90 persen provinsi di Indonesia. Peningkatan kapasitas layanan ini memerlukan jumlah fisikawan medis spesialis radioterapi yang lebih banyak dalam waktu relatif singkat.

“Kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk menghasilkan fisikawan medis spesialis radioterapi guna mendukung program ekspansi fasilitas kesehatan ini,” jelasnya.

Dalam perkembangan teknologi, Indonesia juga tengah mengembangkan fasilitas radioterapi dengan teknologi Proton Therapy yang memiliki tingkat presisi dan akurasi tinggi, khususnya untuk penanganan kanker pada anak-anak. Saat ini, satu rumah sakit pemerintah dan satu rumah sakit swasta sedang mempersiapkan layanan tersebut. Pengembangan sumber daya manusia untuk teknologi ini juga tengah dilakukan melalui dukungan proyek nasional International Atomic Energy Agency (IAEA) INS6022.

Prof. Supriyanto menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi radiasi di fasilitas kesehatan harus melalui proses perencanaan dan perizinan yang ketat guna melindungi masyarakat dari risiko paparan radiasi. Dalam praktiknya, fisikawan medis memiliki peran penting dalam memastikan mutu peralatan teknologi radiasi selalu terjaga sehingga keselamatan pasien dapat terjamin.

Sebagai Ketua Tim Tenaga Ahli Uji Kesesuaian BAPETEN, ia juga bertanggung jawab memastikan proses pengujian kesesuaian pesawat sinar-X radiologi diagnostik dan intervensional berjalan sesuai standar. Proses ini berfungsi sebagai mekanisme audit eksternal untuk menjamin mutu pelayanan radiologi di Indonesia. Hasil evaluasi pengujian nantinya menjadi dasar penerbitan sertifikat kelayakan penggunaan peralatan radiologi bagi pelayanan pasien.

Menurutnya, uji kesesuaian memiliki peran penting dalam menjaga kualitas diagnosis berbasis teknologi radiasi agar tetap akurat sekaligus aman bagi pasien.

Di tingkat regional dan global, Indonesia diharapkan dapat terus memperkuat kolaborasi dengan negara-negara ASEAN dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas fisikawan medis. Hal ini penting untuk mendukung peningkatan mutu layanan kesehatan berbasis teknologi radiasi, baik radiasi pengion maupun nonpengion.

Prof. Supriyanto juga menekankan besarnya peluang bagi mahasiswa dan peneliti muda Indonesia untuk berkontribusi di bidang ini. Mereka didorong untuk mengembangkan inovasi teknologi kesehatan yang dapat dimanfaatkan dalam pelayanan pasien di masa depan.

“Mahasiswa dan peneliti muda memiliki peluang besar untuk menghasilkan inovasi teknologi kesehatan yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di masa mendatang,” tutupnya.

Bagikan ini ke:
Facebook
LinkedIn
Telegram
X
WhatsApp