The Department of Biology

Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Indonesia

Ancaman Kanker di Asia Tenggara Meningkat, FMIPA UI Gelar Diskusi Ilmiah

Kasus kanker di kawasan Asia Tenggara diproyeksikan meningkat hampir 90 persen pada 2050. Peningkatan ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari perubahan struktur usia penduduk hingga ketimpangan akses kesehatan di berbagai negara. Hal ini menjadi perhatian Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) untuk mendorong peningkatan pemahaman ilmiah dan kolaborasi riset terkait penyakit tersebut. Oleh karena itu, FMIPA UI menghadirkan pakar dari School of Biosciences University of Sheffield, Prof. Andrew Beckerman, sebagai narasumber dalam kegiatan MIPA Talk Series 4.

Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (6/3/2026) di Aula Prof. Dr. Ir. Soemantri Brodjonegoro, FMIPA UI, Depok, ini menghadirkan kuliah bertajuk Understanding How Cancer Works. Diskusi tersebut dimoderatori oleh dosen Departemen Biologi FMIPA UI, Astari Dwiranti, M.Eng., Ph.D.

Dalam paparannya, Prof. Andrew menjelaskan bahwa kanker merupakan penyakit yang terjadi ketika sel-sel dalam tubuh tumbuh secara tidak terkendali dan dapat menyebar ke berbagai bagian tubuh.

“Kanker pada dasarnya adalah kondisi ketika sel-sel dalam tubuh kehilangan kontrol terhadap pertumbuhannya. Sel-sel tersebut terus membelah dan dalam banyak kasus dapat menyebar ke bagian tubuh lain melalui proses yang disebut metastasis,” ujar Prof. Andrew.

Ia menjelaskan bahwa secara umum terdapat dua jenis utama tumor, yaitu tumor jinak (benign) dan tumor ganas (malignant). Tumor jinak biasanya tumbuh relatif lambat dan tetap berada di lokasi asalnya, misalnya pada kasus fibroid, polip, atau benjolan lemak. Sebaliknya, tumor ganas memiliki kemampuan menyebar ke jaringan di sekitarnya bahkan ke organ lain melalui proses metastasis.

Prof. Andrew juga menyoroti bagaimana struktur usia populasi memengaruhi tingkat kejadian penyakit di berbagai negara. Sebagai contoh, hanya sekitar dua persen penduduk Uganda yang berusia di atas 65 tahun, sementara di Jepang jumlahnya mencapai sekitar 30 persen. Karena banyak penyakit lebih sering terjadi pada usia lanjut, negara dengan populasi yang lebih tua cenderung memiliki tingkat kejadian penyakit yang lebih tinggi. Untuk itu, para peneliti menggunakan metode age-standardised rate guna membandingkan data kesehatan antarnegara secara lebih adil.

Dalam konteks global, ia menyebutkan bahwa tingkat kejadian kanker di Inggris diperkirakan mulai stabil. Namun, di kawasan ASEAN—seperti Malaysia, Thailand, dan Indonesia—jumlah kasus kanker diperkirakan akan meningkat signifikan dalam beberapa dekade mendatang. Selain itu, terdapat ketimpangan distribusi kejadian dan angka kematian akibat kanker di berbagai wilayah Asia yang berkaitan dengan tingkat Human Development Index (HDI).

Lebih lanjut, Prof. Andrew menjelaskan bahwa sel kanker memiliki karakteristik khusus yang dikenal sebagai hallmarks of cancer, yaitu serangkaian perubahan biologis yang memungkinkan sel kanker tumbuh, bertahan, dan menyebar. Pemahaman mengenai karakteristik ini menjadi dasar penting dalam pengembangan terapi kanker modern.

“Dengan kemajuan bioinformatika, statistik genetika, dan machine learning, kita kini dapat menganalisis data DNA dalam jumlah sangat besar untuk memahami mekanisme kanker dan menemukan terapi yang lebih tepat sasaran,” imbuhnya.

Ia juga mencontohkan perkembangan terapi kanker berbasis genetika, salah satunya melalui penggunaan obat Herceptin untuk kanker payudara yang menargetkan protein HER2 pada sel kanker. Obat ini bekerja dengan memblokir sinyal pertumbuhan sel sehingga perkembangan tumor dapat diperlambat.

Contoh lain adalah penggunaan obat Gleevec dalam pengobatan Chronic Myeloid Leukemia. Obat ini dirancang untuk menghambat protein BCR-ABL yang terbentuk akibat perubahan genetik pada sel kanker darah. Dengan terapi tersebut, sekitar 80 persen pasien CML kini dapat bertahan hidup hingga 10 tahun atau lebih setelah diagnosis.

Melalui kegiatan MIPA Talk Series, FMIPA UI berharap dapat memperluas wawasan sivitas akademika mengenai perkembangan riset kanker serta mendorong pemanfaatan genetika, bioinformatika, dan kecerdasan buatan dalam pengembangan terapi yang lebih efektif di masa depan.

Bagikan ini ke:
Facebook
LinkedIn
Telegram
X
WhatsApp