|

The Department of Biology
Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Indonesia
Depok, 14 Juli 2026 — Penelitian terbaru oleh Doktor Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) membuka peluang baru dalam pemanfaatan pala Indonesia sebagai bahan baku pangan fungsional, nutrasetikal, hingga fitofarmaka. Melalui pendekatan metabolomik, peneliti FMIPA UI berhasil menunjukkan bahwa sampel pala dari berbagai wilayah Indonesia memiliki perbedaan profil kimia dan bioaktivitas in vitro.
Temuan tersebut dipaparkan Susilo dalam sidang promosi doktor Program Studi Biologi FMIPA UI di Aula Prof. G.A. Siwabessy FMIPA UI, Depok, Rabu (1/7/2026). Ia berhasil meraih gelar doktor dengan predikat Sangat Memuaskan dan IPK 3,99 melalui disertasi berjudul Profil Metabolomik, Kandungan Fenolik Total, Kapasitas Antioksidan, dan Aktivitas Antibakteri Pala (Myristica fragrans Houtt.) dari Berbagai Asal Geografis.
Penelitian yang dibimbing Dr. rer. nat. Yasman, M.Sc. sebagai promotor, serta Dr. Dra. Ratna Yuniati, M.Si. dan Prof. Dr. Titin Siswantining, D.E.A. sebagai ko-promotor tersebut memanfaatkan teknologi Liquid Chromatography-High Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS) untuk memetakan senyawa alami yang terkandung dalam pala dari berbagai wilayah di Indonesia.
Susilo menganalisis 76 sampel biji pala dari 32 kabupaten/kota di 10 provinsi, 50 sampel fuli dari tujuh provinsi, serta membandingkan kandungan metabolit pada berbagai bagian tanaman, mulai dari biji, fuli, daun, hingga daging buah.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan profil metabolit dan bioaktivitas pala berdasarkan asal geografis. Variasi profil metabolit tersebut juga tercermin pada perbedaan kapasitas antioksidan dan aktivitas antibakteri antarwilayah.

Penelitian menemukan bahwa biji pala asal Sumatera Barat memiliki kandungan fenolik total tertinggi, Sulawesi Utara menunjukkan kapasitas antioksidan tertinggi berdasarkan metode DPPH dan ABTS, sedangkan Aceh memiliki kapasitas reduksi tertinggi berdasarkan metode FRAP. Maluku Utara menjadi salah satu wilayah yang menunjukkan aktivitas antibakteri menonjol terhadap beberapa bakteri uji, meskipun pola aktivitasnya berbeda menurut jenis bakteri dan konsentrasi ekstrak.
Pada fuli pala, Sumatera Barat menunjukkan kandungan fenolik total dan aktivitas DPPH tertinggi, Sulawesi Tenggara unggul pada metode ABTS, sedangkan Maluku menunjukkan kapasitas reduksi tertinggi berdasarkan metode FRAP. Penelitian juga menemukan bahwa daging buah pala memiliki potensi sebagai sumber antibakteri alami yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.
Selain mengungkap potensi bioaktivitas pala, penelitian ini juga berhasil mengidentifikasi secara putatif sejumlah senyawa diskriminan dari kelompok fenilpropanoid, lignan, neolignan, dan malabariconoid. Senyawa tersebut berpotensi dikembangkan sebagai kandidat penanda asal geografis maupun bagian tanaman, tetapi masih memerlukan validasi menggunakan standar autentik, analisis yang terarah, dan sampel yang lebih luas.
Menurut Susilo, pendekatan metabolomik memungkinkan kualitas pala dipetakan secara lebih komprehensif karena tidak hanya melihat satu kandungan tertentu, tetapi keseluruhan profil senyawa alaminya.
“Setiap wilayah menghasilkan pala dengan karakter metabolit yang berbeda. Perbedaan tersebut menjadi dasar untuk mengidentifikasi keunggulan relatif masing-masing daerah sekaligus mendukung pemanfaatannya secara lebih tepat sesuai potensinya,” ujar Susilo.

Ia mengatakan hasil penelitian tersebut dapat menjadi pijakan ilmiah bagi standardisasi bahan baku pala Indonesia sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas rempah nasional.
“Penelitian ini diharapkan dapat mendukung pengembangan sistem traceability dan autentikasi geografis pala Indonesia, sekaligus menjadi dasar pengembangan pangan fungsional, nutrasetikal, dan fitofarmaka berbasis sumber daya hayati Indonesia,” katanya.
Temuan ini menunjukkan potensi riset FMIPA UI dalam mendukung pemanfaatan keanekaragaman hayati di Indonesia. Melalui teknologi analisis modern, penelitian tersebut diharapkan menjadi dasar standardisasi kualitas pala sekaligus mendorong pengembangan pangan fungsional, nutrasetikal, fitofarmaka, dan produk bernilai tambah berbasis pala Indonesia.