The Department of Biology

Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Indonesia

Riset Doktor FMIPA UI Ungkap Ancaman Mikroplastik terhadap Keberlanjutan Budidaya Mutiara Lombok

Depok, 29 Juli 2026 — Pencemaran mikroplastik tidak hanya menjadi ancaman bagi ekosistem laut, tetapi juga berpotensi mengganggu keberlanjutan komoditas kelautan bernilai ekonomi tinggi. Penelitian doktoral di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) menemukan adanya keterkaitan antara perubahan kualitas lingkungan, kontaminasi mikroplastik, dan penurunan produktivitas budidaya tiram mutiara di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Penelitian tersebut dilakukan Nestiyanto Hadi melalui disertasinya berjudul “Keberlanjutan Budidaya Tiram Pinctada maxima Penghasil Mutiara di Lombok: Kualitas Lingkungan, Kontaminasi Mikroplastik, dan Histologi Gonad”.

Nestiyanto mempertahankan disertasinya dalam Promosi Doktor Program Studi Biologi FMIPA UI di Gedung Laboratorium Riset Multidisiplin Pertamina FMIPA UI, Depok, Kamis (9/7/2026). Ia lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,86 dan predikat cum laude.

Penelitian ini dilatarbelakangi menurunnya produktivitas budidaya tiram mutiara Pinctada maxima di Pulau Lombok. Penurunan itu antara lain ditandai dengan meningkatnya kematian larva, melambatnya pertumbuhan tiram, serta menurunnya keberhasilan pencangkokan atau grafting berulang.

Dalam penelitian yang dilakukan di kawasan budidaya tiram mutiara di perairan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, pada Januari-Februari 2025, Nestiyanto mengkaji kondisi lingkungan perairan, keberadaan mikroplastik, serta perubahan jaringan tubuh tiram setelah proses pencangkokan dilakukan berulang.

Hasil penelitian menunjukkan, perairan Sekotong masih layak untuk budidaya tiram mutiara. Namun, terdapat sejumlah indikasi tekanan lingkungan yang perlu mendapat perhatian.

Suhu perairan tercatat mencapai 32,8 derajat Celsius, lebih tinggi dari kisaran suhu yang dianggap optimal untuk budidaya, yakni 26-30 derajat Celsius. Selain itu, salinitas atau kadar garam air laut tercatat mencapai 28,1 parts per thousand (ppt), lebih rendah dari kisaran optimal pertumbuhan tiram sebesar 30-34 ppt.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penempatan tiram pada lapisan perairan yang memiliki kondisi lingkungan lebih sesuai. Salah satu rekomendasi yang dihasilkan penelitian ini adalah pengaturan daya apung pada sistem longline untuk memperoleh kedalaman pemeliharaan dengan kondisi lingkungan yang lebih optimal.

Penelitian itu juga menemukan mikroplastik telah tersebar di perairan kawasan budidaya dan masuk ke berbagai organ tiram, antara lain insang, mantel, saluran pencernaan, gonad, dan otot.

Mikroplastik yang ditemukan didominasi oleh granula, diikuti film dan fragmen. Adapun jenis polimer yang teridentifikasi antara lain polypropylene (PP), polyethylene terephthalate (PET), dan poliamida (PA).

Akumulasi mikroplastik tertinggi ditemukan pada insang dan mantel. Temuan ini menunjukkan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil tersebut telah masuk ke dalam sistem biologis tiram dan berpotensi mengganggu metabolisme serta proses pembentukan cangkang dan mutiara.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa keberlanjutan budidaya mutiara tidak hanya ditentukan oleh teknik budidaya, tetapi juga oleh kondisi lingkungan dan kesehatan biologis tiram. Karena itu, pemantauan kualitas perairan, kontaminasi mikroplastik, serta kondisi jaringan tiram perlu dilakukan secara terpadu,” kata Nestiyanto.

Temuan tersebut relevan dengan persoalan nasional mengenai pencemaran sampah plastik di laut. Sampah plastik yang masuk ke laut dapat mengancam keberlanjutan ekosistem perairan, termasuk ketika sampah tersebut terurai menjadi mikroplastik.

Karena itu, penelitian ini memberikan kontribusi penting dengan menunjukkan bahwa persoalan mikroplastik dapat berdampak pada komoditas budidaya laut secara spesifik. Hasil penelitian dapat menjadi dasar untuk memperkuat pemantauan kualitas lingkungan di kawasan budidaya sekaligus merancang langkah mitigasi pencemaran yang lebih terarah.

Selain itu, penelitian menunjukkan pencangkokan berulang dapat menyebabkan perubahan pada jaringan pembentuk kantung mutiara. Pada tiram yang telah menjalani pencangkokan berulang, ditemukan penebalan jaringan ikat, pembentukan jaringan parut, serta perubahan struktur jaringan yang berlangsung secara kronis.

Mikroplastik juga ditemukan terakumulasi pada gonad atau organ reproduksi tiram pada seluruh kelompok perlakuan. Kondisi tersebut diduga dapat memperberat perubahan jaringan dan menurunkan efisiensi proses pembentukan lapisan mutiara.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan kualitas lingkungan, paparan mikroplastik, dan perubahan jaringan tubuh tiram memiliki keterkaitan dengan penurunan produktivitas budidaya mutiara.

Penelitian Nestiyanto mengintegrasikan tiga pendekatan, yakni ekologi untuk melihat kondisi lingkungan, toksikologi untuk mengkaji dampak pencemaran, serta histologi untuk mengamati perubahan jaringan tubuh tiram.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah bagi pengelolaan budidaya mutiara yang lebih berkelanjutan melalui pemantauan kualitas habitat, pengendalian pencemaran mikroplastik, dan pemeriksaan kondisi biologis tiram sebelum dilakukan pencangkokan berulang.

Budidaya mutiara menjadi salah satu komoditas bernilai ekonomi penting di Indonesia. Lombok dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil mutiara laut berkualitas premium melalui budidaya tiram Pinctada maxima.

Karena itu, penelitian mengenai faktor lingkungan dan biologis yang dapat memengaruhi produktivitas tiram dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan industri mutiara di Indonesia. Penelitian ini sekaligus memperlihatkan bahwa penanganan pencemaran plastik perlu dilakukan secara terpadu, mulai dari pengendalian sampah di daratan hingga pemantauan dampaknya terhadap organisme dan komoditas laut.

Dalam penelitian ini, Nestiyanto juga mengembangkan aplikasi MABE PEARL (Monitoring and Assessment of Biotic and Ecosystem Parameters for Pearl Culture) yang dapat membantu pembudidaya mengetahui tingkat kesesuaian habitat budidaya, mengidentifikasi faktor lingkungan yang menjadi pembatas, serta memperoleh rekomendasi tindakan mitigasi berdasarkan parameter yang diukur.

“Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pembudidaya untuk menentukan kesesuaian habitat, mengidentifikasi faktor pembatas utama, dan melakukan mitigasi yang lebih tepat sehingga produktivitas budidaya mutiara dapat dipertahankan secara berkelanjutan,” ujar Nestiyanto.

Promosi doktor tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Tito Latif Indra, M.Si., Dekan FMIPA UI, selaku ketua sidang. Adapun promotor penelitian adalah Prof. Dr. Dra. Noverita Dian Takarina, M.Sc., dengan ko-promotor Prof. Dr. Dra. Luthfiralda Sjahfirdi, M.Biomed., dan Prof. Dr. rer. nat. Mufti Petala Patria, S.Si., M.Sc.

Bagikan ini ke:
Facebook
LinkedIn
Telegram
X
WhatsApp