|

The Department of Biology
Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Indonesia
Depok, 28 Juli 2026 — Upaya memperkuat ketahanan energi dan mempercepat peralihan menuju energi yang lebih bersih mendorong pengembangan berbagai teknologi energi alternatif, termasuk sel bahan bakar (fuel cell). Menjawab tantangan tersebut, Doktor Program Studi Ilmu Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Armi Wulanawati, mengembangkan komponen penting sel bahan bakar dengan memanfaatkan material alternatif.
Penelitian Armi mengembangkan membrane electrode assembly (MEA), yaitu bagian penting dalam sel bahan bakar yang berfungsi membantu mengubah energi kimia menjadi energi listrik. MEA yang dikembangkan menggunakan kombinasi bahan polimer, polianilina, nanopartikel silika dan alumina, serta hemin sebagai alternatif katalis berbasis platinum.
Penelitian tersebut dipaparkan dalam Promosi Doktor Program Studi Ilmu Kimia FMIPA UI yang berlangsung di Gedung Laboratorium Riset Multidisiplin Pertamina FMIPA UI, Depok, Rabu (8/7/2026).
“Pengembangan teknologi sel bahan bakar membutuhkan material yang tidak hanya memiliki kinerja baik, tetapi juga dapat mendukung diversifikasi material dan pengembangan teknologi energi yang lebih berkelanjutan,” kata Armi.
Sel bahan bakar merupakan teknologi yang dapat menghasilkan listrik melalui reaksi kimia. Berbeda dengan pembangkit listrik yang membakar bahan bakar, teknologi ini mengubah energi dari bahan bakar menjadi listrik melalui proses elektrokimia.

Dalam disertasinya yang berjudul “Rekayasa Membrane Electrode Assembly Berbasis Komposit Polisulfon Tersulfonasi, Polianilina, dan Nanopartikel SiO₂/Al₂O₃ dengan Katalis Hemin untuk Aplikasi Sel Bahan Bakar”, Armi mengembangkan MEA untuk digunakan pada jenis sel bahan bakar yang menggunakan metanol sebagai bahan bakar.
Salah satu tantangan dalam pengembangan sel bahan bakar adalah menemukan bahan membran yang mampu menghantarkan proton dengan baik, tetapi tetap kuat dan tahan terhadap kondisi kerja sel bahan bakar. Untuk menjawab tantangan tersebut, Armi menggunakan polisulfon sebagai bahan dasar membran.
Polisulfon memiliki keunggulan berupa ketahanan terhadap panas dan bahan kimia. Namun, agar dapat menghantarkan proton dengan lebih baik, bahan tersebut perlu dimodifikasi melalui proses kimia. Modifikasi ini dapat meningkatkan kemampuan membran dalam menyerap air dan menghantarkan proton, tetapi berisiko membuat membran menjadi lebih rapuh.
Armi kemudian menambahkan polianilina serta partikel berukuran sangat kecil yang terbuat dari silika dan alumina. Kombinasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan kemampuan membran dalam menghantarkan proton sekaligus mempertahankan kekuatan dan kestabilannya.
Dalam penelitian ini, nanopartikel silika dan alumina dibuat menggunakan metode yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan ekstrak daun kedondong duri (Spondias mombin). Metode tersebut menghasilkan partikel berukuran sekitar 20 nanometer atau sekitar 50 juta bagian dari satu meter.
Selain mengembangkan membran, Armi juga menguji penggunaan hemin sebagai bahan yang membantu mempercepat reaksi kimia di dalam sel bahan bakar. Hemin digunakan sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada platinum yang selama ini banyak digunakan sebagai katalis pada sel bahan bakar.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa rekayasa MEA berbasis material komposit dengan katalis hemin berpotensi menghasilkan kinerja yang baik. Hasil ini dapat menjadi dasar untuk penelitian lanjutan dalam pengembangan material dan teknologi sel bahan bakar,” ujar Armi.

Hasil pengujian menunjukkan MEA yang dikembangkan mampu menghasilkan tegangan sirkuit terbuka sebesar 1,054 volt dan kerapatan daya maksimum sebesar 154,10 mW/cm². Material tersebut juga mampu menghantarkan proton dengan baik dan menunjukkan ketahanan yang tinggi terhadap proses oksidasi.
Pengujian juga menunjukkan bahwa MEA memiliki kemampuan menahan perpindahan metanol yang rendah. Karakteristik ini penting karena perpindahan metanol yang terlalu tinggi dari satu sisi membran ke sisi lainnya dapat menurunkan kinerja sel bahan bakar.
Pengembangan teknologi seperti ini relevan dengan kebutuhan Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi dan mengembangkan sumber energi alternatif. Teknologi sel bahan bakar berpotensi menjadi salah satu pilihan dalam diversifikasi teknologi energi karena dapat menghasilkan listrik melalui proses kimia dengan emisi polutan yang relatif rendah.
Dalam konteks tersebut, penelitian Armi penting karena tidak hanya berfokus pada peningkatan kinerja sel bahan bakar, tetapi juga mengembangkan alternatif material untuk komponen penting di dalamnya. Pemanfaatan ekstrak tumbuhan dalam pembuatan nanomaterial juga menunjukkan peluang penggunaan pendekatan yang lebih ramah lingkungan dalam pengembangan teknologi energi.
Armi menyelesaikan studi doktoralnya dalam 10 semester dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,84 dan predikat Sangat Memuaskan. Promosi doktor tersebut dipimpin oleh Dekan FMIPA UI Prof. Dr. Tito Latif Indra, M.Si., selaku Ketua Sidang. Armi dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. Yoki Yulizar, S.Si., M.Sc., dari Departemen Kimia FMIPA UI dan Ko-Promotor Dr. Dra. Sri Mulijani, M.Si., dari Departemen Kimia IPB University.