The Department of Biology

Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Indonesia

Dari Maggot hingga Biogas, Warga RW 17 Tugu Kota Depok Pelajari Olah Sampah Organik bersama FMIPA UI

Depok, 19 Oktober 2026 – Sampah organik rumah tangga tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan. Sisa makanan dan sayuran yang dikelola dengan tepat, dapat dimanfaatkan menjadi sumber pakan ternak, bahan pupuk organik, hingga energi alternatif. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di RW 17, Kelurahan Tugu, Depok, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) melalui tim Departemen Biologi mengajak warga mengenal budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai salah satu cara mengolah sampah organik menjadi sumber daya bernilai guna sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Kegiatan bertajuk “Budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai Solusi Pengolahan Limbah dan Produksi Pupuk Organik Kasgot Bernilai Ekonomi” ini dilaksanakan pada Sabtu (26/9/2026). Dipimpin oleh Fadhillah, S.Si., M.Agri., Ph.D., kegiatan ini melibatkan dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan Departemen Biologi FMIPA UI serta didukung melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat FMIPA UI.

Melalui kegiatan ini, Departemen Biologi FMIPA UI turut mendukung upaya Pemerintah Kota Depok dan KLHK Kota Depok dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Lebih dari sekadar mengurangi sampah, kegiatan ini mengajak warga melihat bahwa sisa makanan dan sampah organik sehari-hari masih dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Departemen Biologi FMIPA UI, Dr. Windri Handayani, yang kemudian dilanjutkan oleh Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan FMIPA UI, Prof. Anom Bowolaksono, Ph.D. Sekitar 20 warga yang mewakili sejumlah RT di RW 17, Kelurahan Tugu, Depok, turut hadir dalam kegiatan ini, termasuk Ketua RW 17, drg. Novarita.

Dalam sesi materi dan diskusi, dosen Departemen Biologi FMIPA UI, Dr. rer. nat. Yasman, M.Sc., dan Dr. Dian Hendrayanti, mengajak warga mengenal cara mengelola sampah rumah tangga dengan lebih ramah lingkungan. Materi yang disampaikan mencakup penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) serta pemanfaatan mikroorganisme dekomposer untuk mengolah sampah organik menjadi kompos. Warga diajak memahami bahwa sisa makanan dan sampah dapur tidak harus berakhir sebagai limbah yang dibuang. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah organik dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan.

Bagi warga RW 17, Kelurahan Tugu, upaya mengelola sampah sebenarnya sudah dimulai dari kebiasaan memilah sampah dan keberadaan bank sampah di lingkungan permukiman. Namun, sampah organik yang telah dipisahkan dari sampah lainnya masih memiliki potensi besar untuk diolah lebih lanjut sehingga tidak hanya menjadi residu yang harus dibuang. Dari sinilah pengolahan biologis menjadi relevan. Sampah organik dapat dimanfaatkan tidak hanya melalui proses dekomposisi oleh mikroorganisme, tetapi juga menjadi pupuk kompos.

Ketua tim, Fadhillah, S.Si., M.Agri., Ph.D., menjelaskan bahwa sampah organik rumah tangga masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan lebih jauh, bukan sekadar dibuang. Melalui pengolahan yang tepat, sampah dapat diubah menjadi produk yang berguna bagi masyarakat.

“Sampah organik yang kita hasilkan sehari-hari sebenarnya masih bisa dimanfaatkan. Selain diolah menjadi kompos, sisa makanan juga dapat digunakan sebagai pakan maggot BSF, sementara melalui biodigester, sampah organik berpotensi menghasilkan biogas. Jadi, ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mengolah sampah agar lebih bermanfaat, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat,” jelas Ibu Fadhillah.

Penjelasan mengenai budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi pengolahan limbah dan produksi pupuk organik dalam kerangka ekonomi sirkular disampaikan oleh Prof. Dr.rer.nat. Mufti Petala Patria, M.Sc., Guru Besar Departemen Biologi FMIPA UI. Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa maggot merupakan larva lalat Black Soldier Fly (Hermetia illucens) yang memiliki kemampuan mengonsumsi berbagai jenis bahan organik yang sesuai, termasuk sebagian sisa makanan yang telah dipilah. Melalui budidaya yang terkelola dengan baik, bahan organik tersebut dapat diubah menjadi biomassa larva atau maggot yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak, termasuk unggas, karena kandungan protein dan lemaknya.

Potensi ekonomi budidaya BSF tidak hanya berasal dari maggot, budidaya maggot juga menghasilkan kasgot, yaitu sisa material atau residu dari proses pemeliharaan larva yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik setelah melalui pengolahan dan pematangan yang sesuai untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Dengan demikian, sampah organik rumah tangga tidak hanya berkurang, tetapi juga berpeluang menghasilkan sesuatu yang bernilai guna, maggot berpotensi menjadi produk pakan, sedangkan kasgot dapat mendukung kegiatan pertanian dan penghijauan.

Selain budidaya maggot, warga juga diperkenalkan pada biodigester, yaitu teknologi yang memanfaatkan aktivitas mikroorganisme tanpa oksigen (anaerob) untuk mengolah bahan organik menjadi biogas. Sisa makanan dan sayuran yang telah dipilah dapat dicacah terlebih dahulu, kemudian dicampurkan dengan kotoran sapi sebagai bahan masukan. Agar proses berjalan optimal, komposisi bahan dan kondisi pengoperasian biodigester perlu disesuaikan.

Biogas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif, misalnya untuk menyalakan kompor atau mendukung proses pengeringan maggot atau kasgot. Namun, penerapannya tetap memerlukan instalasi yang aman, pengendalian proses, serta prosedur operasional yang memadai. Dengan demikian, biodigester membuka peluang pemanfaatan sampah organik menjadi sumber energi alternatif, sementara residunya berpotensi diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat.

Untuk memperkuat pemahaman peserta, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke rumah maggot dan biodigester. Warga berkesempatan melihat langsung penerapan teknologi pengolahan sampah organik yang telah dibahas dalam sesi materi. Kegiatan juga dilengkapi permainan edukatif, diskusi mengenai jenis sampah organik yang sesuai untuk budidaya maggot dan biodigester, serta demonstrasi pengomposan yang dipandu oleh Ibu Sitaresmi, M.Sc., Dosen Departemen Biologi FMIPA UI. Melalui sesi ini, peserta dapat berdiskusi dan menggali peluang penerapan metode pengolahan sampah tersebut di lingkungan masing-masing.

Pengembangan budidaya maggot dan pemanfaatan biodigester di tingkat masyarakat perlu didukung pengelolaan yang tepat, mulai dari pemilihan bahan baku hingga aspek kebersihan dan keamanan. Jika dikelola dengan tepat, kegiatan ini berpotensi menjadi alternatif pengolahan sampah sekaligus membuka peluang usaha berbasis lingkungan.

Melalui hibah pengabdian kepada masyarakat ini, Departemen Biologi FMIPA UI menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dapat hadir untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Kolaborasi dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan warga diharapkan dapat mendorong pengelolaan sampah yang tidak berhenti pada pemilahan, tetapi berlanjut pada pemanfaatan yang lebih produktif. Langkah sederhana yang dimulai dari rumah ini diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan baru dalam mengelola sampah sekaligus membangun lingkungan yang lebih bersih, produktif, dan berkelanjutan.

Share this to:
Facebook
LinkedIn
Telegram
X
WhatsApp