The Department of Biology

Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Indonesia

Alumni FMIPA UI Kupas Peran Geosains dan Teknologi EOR dalam Optimalisasi Produksi Migas

Depok, 26 Oktober 2026 – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) menghadirkan alumni sekaligus praktisi industri minyak dan gas bumi (migas), Ir. Taufik Alif Manan, M.Si., untuk berbagi wawasan mengenai kontribusi geosains dalam studi reservoir terintegrasi. Dalam kesempatan ini, pembahasan mencakup penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk mengoptimalkan produksi minyak dan gas bumi. Melalui forum ini, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai penerapan ilmu geologi dan geofisika dalam industri hulu migas, mulai dari tahap eksplorasi hingga penerapan teknologi untuk meningkatkan perolehan minyak, khususnya pada lapangan yang telah memasuki fase penurunan produksi. 

Kegiatan bertajuk “Geosciences Contributes in Integrated Reservoir Management Studies to Optimalize Production Oil & Gas with EOR Implementation” ini merupakan bagian dari rangkaian Universitas Indonesia Geoscience Seminar (UIGS) x Starborn Mengajar 2026. Acara tersebut berlangsung pada Senin (19/10/2026) di Aula Prof. Dr. G.A. Siwabessy, FMIPA UI, yang dipandu oleh Ayunda Aulia Valencia, S.T., M.T., sebagai moderator. 

Ir. Taufik Alif Manan, M.Si. merupakan Exploration Consultant di PT PetroRaya Resources sekaligus dosen tidak tetap Program Studi Geologi dan Geofisika FMIPA UI. Ia juga merupakan alumni Departemen Fisika FMIPA UI. Dengan pengalaman lebih dari 34 tahun di industri minyak dan gas bumi (migas), ia telah berkecimpung dalam berbagai bidang, mulai dari new ventures, eksplorasi, subsurface, pengembangan, hingga operasi proyek migas konvensional dan nonkonvensional. Lebih dari 16 tahun, pengalamannya dihabiskan dalam posisi manajerial. Ia juga pernah terlibat dalam berbagai proyek internasional di Oman, Kamboja, dan Malaysia.

Dalam pemaparannya, Taufik menjelaskan bahwa keberhasilan sektor hulu migas bertumpu pada tiga tahap yang saling terhubung. Geosains berperan menemukan cadangan, studi reservoir memahami akumulasi di bawah permukaan, dan tahap produksi serta EOR mengangkat sisa minyak ke permukaan.

“Konsep eksplorasi pada dasarnya adalah model geologi atau hipotesis kerja untuk menentukan di mana hidrokarbon berada. Ada ungkapan ‘oil is found in the mind of man’. Terutama di wilayah frontier, kita membutuhkan konsep-konsep baru agar cadangan dapat ditemukan,” ujar Taufik.

Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan usaha migas memiliki siklus yang panjang, mulai dari tahap eksplorasi dan perencanaan pengembangan, pengembangan lapangan, periode produksi stabil (plateau), hingga fase penurunan produksi.

“Dari eksplorasi sampai Plan of Development bisa memakan waktu satu hingga delapan tahun. Setelah itu ada tahap pengembangan, plateau, lalu fase penurunan dan peningkatan produksi yang bisa berlangsung 5 hingga 25 tahun. Karena itu, tahap sekunder dan tersier harus disiapkan sejak dini, mulai dari pemrosesan seismik lanjutan, akuisisi seismik 3D, pembaruan data sumur, pemodelan, hingga pilot project,” jelasnya.

Untuk memperlihatkan penerapan konsep tersebut, Taufik turut membagikan sejumlah pengalaman dan studi kasus dari industri migas kepada para mahasiswa. Salah satunya adalah interpretasi ulang Area Semai yang menghasilkan pemahaman baru terhadap kondisi geologi bawah permukaan. Data seismik baru di area tersebut memperlihatkan lapisan yang lebih dalam dan mengonfirmasi kemungkinan adanya sedimen berumur Jura. Menurut Taufik, temuan ini membuat wilayah tersebut terjual pada lelang reguler 2008 dengan bonus tanda tangan sebesar US$40 juta, yang saat itu menjadi rekor tertinggi di Indonesia.

Selain eksplorasi, pembahasan juga menyoroti pentingnya manajemen reservoar sebagai proses terintegrasi untuk memaksimalkan perolehan dan profitabilitas reservoar sepanjang umur produksinya, dengan tujuan utama memaksimalkan Net Present Value (NPV). Kegiatan ini mencakup karakterisasi reservoar, optimasi produksi, manajemen sumur, simulasi reservoar, evaluasi ekonomi, dan pemantauan kinerja produksi.

“Kunci manajemen reservoir adalah integrasi geosains dengan teknik, serta integrasi teknologi eksplorasi dengan pengembangan. Geofisika, geologi, petrofisika, hingga teknik reservoir dan produksi harus bekerja dalam satu alur yang sama,” ujar Taufik.

Taufik menekankan bahwa integrasi antara geosains dan teknik menjadi kunci dalam pengambilan keputusan pengembangan lapangan. Data dan hasil interpretasi bawah permukaan perlu dihubungkan dengan strategi produksi serta pertimbangan keekonomian agar setiap keputusan teknologi yang diterapkan dapat memberikan hasil optimal.

Lebih lanjut, ia memaparkan tiga tahapan utama dalam perolehan minyak, yakni produksi primer yang memanfaatkan energi alami reservoir, perolehan sekunder, atau Improved Oil Recovery (IOR), serta perolehan tersier melalui Enhanced Oil Recovery (EOR). Pada tahap EOR, energi atau bahan kimia tertentu diinjeksikan ke dalam reservoir untuk meningkatkan jumlah minyak yang dapat diproduksikan. Melalui penerapan teknologi ini, faktor perolehan minyak yang umumnya berada di kisaran 30% berpotensi meningkat menjadi sekitar 40–60%, bergantung pada karakteristik lapangan dan teknologi yang digunakan.

Taufik menyebut Indonesia sebagai negara pertama dan terbesar dalam penerapan EOR, yang dimulai pada 1967 di Lapangan Duri, Blok Rokan. Sejumlah proyek EOR juga telah dikembangkan di berbagai wilayah, termasuk Sumatra, Kalimantan, dan Jawa Barat. Potensi penerapan teknologi ini diperkirakan mencapai 950 juta barel minyak (million stock tank barrels/MMSTB) di 12 lokasi.

Selain membahas industri migas, sesi diskusi dan tanya jawab turut mengangkat peluang bagi lulusan FMIPA UI untuk mengembangkan keilmuan geologi dan geofisika dalam mendukung transisi energi, salah satunya melalui Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS). Menurut Taufik, bidang yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir ini masih membutuhkan keahlian geologi, terutama dalam memahami karakteristik batuan dan kondisi bawah permukaan. Ia juga menekankan pentingnya kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan data historis, pemetaan, dan hasil pengamatan lapangan untuk menghasilkan interpretasi geologi yang komprehensif.

Menutup pemaparannya, Taufik menegaskan bahwa pengelolaan lapangan migas membutuhkan integrasi berbagai disiplin ilmu dan teknologi, mulai dari eksplorasi, studi reservoar, hingga strategi peningkatan produksi melalui EOR. Ia berpesan agar mahasiswa terus mengembangkan kemampuan, memperluas wawasan, dan berani berpikir maju untuk menghadapi tantangan industri energi.

Melalui seminar ini, mahasiswa FMIPA UI diharapkan dapat memahami penerapan ilmu geologi dan geofisika dalam dunia industri, memperluas wawasan mengenai perkembangan teknologi energi, serta mengenali peluang kontribusi keilmuan mereka, baik di sektor migas maupun dalam mendukung transisi energi di masa depan.

Share this to:
Facebook
LinkedIn
Telegram
X
WhatsApp