The Department of Biology

Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Indonesia

Pengembangan Metode Dosen FMIPA UI Diadopsi Perusahaan Radiofarmaka Terkemuka Eropa untuk Terapi Kanker Presisi

Depok, 19 Juni 2026 – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI). Metode dosimetri radiofarmaka yang dikembangkan oleh Dr. sc. hum. Deni Hardiansyah, S.Pd., M.Si., dosen Departemen Fisika FMIPA UI, kini digunakan dan menjadi bagian dari pengembangan teknologi di perusahaan radiofarmaka terkemuka Eropa, ITM Isotope Technologies Munich SE (ITM) yang berbasis di Garching, Munich, Jerman.

Kontribusi Dr. Deni menjadi sorotan dalam presentasi hasil penelitian pada Society of Nuclear Medicine and Molecular Imaging (SNMMI) Annual Meeting 2026 yang berlangsung di Los Angeles, Amerika Serikat. Penelitian tersebut memanfaatkan metode yang dikembangkan Dr. Deni dan tim untuk mendukung terapi kanker berbasis radiofarmaka yang lebih akurat, efisien, dan personal.

Metode yang dikembangkan terdiri atas Population-Based Modeling and Simulation Nonlinear Mixed Effects Model (PBMS NLME) dan Single-Timepoint (STP) Dosimetry. PBMS NLME merupakan pendekatan statistik yang dirancang untuk menemukan model matematis terbaik dalam menghitung dosis serap radiasi secara individual. Metode ini terbukti mampu menghasilkan estimasi dosis yang lebih akurat dibandingkan pendekatan dosimetri yang selama ini banyak digunakan dalam literatur ilmiah.

Sementara itu, STP Dosimetry memungkinkan pengukuran dosis serap radiasi hanya melalui satu kali pemindaian (scan). Pendekatan ini menjadi terobosan penting karena metode standar umumnya membutuhkan tiga hingga lima kali pengukuran untuk memperoleh hasil yang memadai. Selain mengurangi beban pasien dan kebutuhan sumber daya rumah sakit, metode ini juga menunjukkan tingkat akurasi yang lebih baik dibandingkan berbagai metode single-timepoint yang telah ada sebelumnya.

Dalam studi yang dipresentasikan pada SNMMI 2026, metode PBMS NLME diterapkan pada data dosimetri dari uji klinis fase 3 COMPETE yang melibatkan pasien gastroenteropancreatic neuroendocrine tumors (GEP-NETs). Analisis terhadap ratusan data ginjal dan tumor menunjukkan bahwa pendekatan PBMS NLME mampu memberikan estimasi dosis serap radiasi yang akurat hanya dengan satu kali sesi pencitraan. Temuan ini membuka peluang penerapan dosimetri personal secara lebih luas di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk pusat layanan yang memiliki keterbatasan kapasitas pencitraan.

Temuan tersebut juga mendapat pengakuan resmi dari ITM. Dalam press release perusahaan berjudul “ITM Announces Phase 3 COMPETE Data Supporting Single-Timepoint Dosimetry for n.c.a. 177Lu-edotreotide (ITM-11) in Patients with Gastroenteropancreatic Neuroendocrine Tumors (GEP-NETs) at SNMMI 2026”, ITM menyampaikan bahwa analisis berbasis PBMS NLMEM pada data uji klinis fase 3 COMPETE menunjukkan dosimetri individual yang akurat dapat dicapai hanya dengan satu kali sesi pencitraan. Pada rilis tersebut, Dr. Deni Hardiansyah juga dikutip sebagai salah satu penulis dan peneliti yang terlibat dalam pengembangan metode tersebut.

Press release resmi ITM tersebut dapat diakses melalui situs perusahaan:
ITM Announces Phase 3 COMPETE Data Supporting Single-Timepoint Dosimetry for ITM-11 at SNMMI 2026

“Dosimetri individual telah lama diakui memiliki nilai klinis yang tinggi dalam terapi radiofarmaka. Namun, penerapannya masih terbatas karena kebutuhan pencitraan berulang yang kompleks. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis pemodelan populasi dapat menghasilkan estimasi dosis yang akurat dengan jumlah pengukuran yang jauh lebih sedikit sehingga lebih memungkinkan untuk diterapkan dalam praktik klinis sehari-hari,” ujar Dr. Deni Hardiansyah yang turut menjadi penulis dalam publikasi tersebut.

Pemanfaatan metode yang dikembangkan dosen FMIPA UI oleh perusahaan radiofarmaka kelas dunia menjadi bukti bahwa hasil riset akademik Indonesia mampu memberikan dampak nyata pada pengembangan teknologi kesehatan global. Penggunaan metode ini berpotensi mempercepat implementasi terapi kanker presisi yang lebih efektif, aman, dan terjangkau bagi pasien di berbagai negara.

Keberhasilan ini sekaligus menjadi bukti kiprah FMIPA UI di tingkat global. Melalui kolaborasi internasional dan riset yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat, FMIPA UI terus berkontribusi dalam menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. Pemanfaatan metode yang dikembangkan oleh Dr. Deni Hardiansyah menunjukkan bahwa inovasi yang lahir dari lingkungan akademik Indonesia mampu memberikan dampak nyata bagi pengembangan teknologi kesehatan dunia.

Share this to:
Facebook
LinkedIn
Telegram
X
WhatsApp