The Department of Biology

Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Indonesia

Belajar dari Rekaman Batuan, Mahasiswa FMIPA UI Dalami Jejak Perubahan Iklim Bumi

Depok, 30 September 2026  — Perubahan iklim yang berlangsung saat ini tidak dapat dipahami hanya dari data dalam beberapa dekade terakhir. Rekaman perubahan lingkungan dan iklim yang tersimpan dalam lapisan batuan selama jutaan tahun juga dapat menjadi sumber informasi untuk memahami dinamika iklim Bumi.

Kemampuan membaca rekaman tersebut dipelajari mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) melalui Universitas Indonesia Geoscience Seminar yang digelar Program Studi Geologi dan Program Studi Geofisika FMIPA UI di Aula Prof. Dr. G.A. Siwabessy, Depok, Senin (28/9/2026).

Seminar menghadirkan Dosen Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran Dr. Syaiful Alam, S.T., M.T., yang membahas Cyclostratigraphy as a Tool for Reconstructing Astronomical Time Scales. Melalui materi tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada siklostratigrafi, metode untuk mengidentifikasi pola berulang pada batuan dan menghubungkannya dengan perubahan lingkungan serta iklim pada masa lalu.

Syaiful menjelaskan, lapisan sedimen tidak terbentuk secara acak. Pola sedimentasi dapat berlangsung secara ritmik maupun episodik dan dipengaruhi berbagai faktor, seperti aktivitas tektonik, perubahan muka laut, iklim, suplai sedimen, dan ruang akomodasi.

Pola yang berulang dan relatif konsisten tersebut dapat menjadi petunjuk untuk menelusuri perubahan yang terjadi dalam sistem Bumi. Salah satu faktor yang dipelajari adalah perubahan orbit Bumi yang memengaruhi jumlah radiasi Matahari yang diterima Bumi dan kemudian memengaruhi sistem iklim.

Perubahan tersebut dikenal melalui siklus Milankovitch yang mencakup eccentricity, obliquity, and precession. Siklus astronomi tersebut dapat meninggalkan pola pada sedimen yang kemudian tersimpan dalam batuan.

“Tujuan utama siklostratigrafi adalah memahami pengaruh astronomi terhadap sistem iklim pada masa geologi, menggunakan siklus astronomi untuk membangun astronomical age models, serta mempelajari analog perubahan iklim masa lalu untuk membantu memahami perubahan iklim di masa depan,” kata Syaiful.

Menurut dia, pendekatan tersebut dapat diterapkan pada berbagai rekaman geologi, antara lain sapropel, batuan evaporit, sedimen fluvial, lapisan merah, dan batubara. Pola yang ditemukan kemudian perlu diuji untuk mengetahui apakah berkaitan dengan siklus astronomi atau terbentuk akibat proses geologi lainnya.

Untuk mengujinya, data paleoklimat dapat diperlakukan sebagai time series. Analisis Fourier atau spectral analysis digunakan untuk mengidentifikasi frekuensi dalam data, sedangkan wavelet analysis digunakan untuk melihat perubahan frekuensi sepanjang waktu.

Analisis tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam astronomical tuning, yakni mencocokkan pola yang terdapat pada rekaman geologi dengan siklus astronomi. Hasilnya dapat digunakan untuk menyusun Astronomical Time Scales (ATS) dengan ketelitian yang lebih tinggi dalam menentukan skala waktu geologi.

Bagi mahasiswa Geologi dan Geofisika FMIPA UI, pemahaman ini penting karena penelitian kebumian membutuhkan kemampuan menghubungkan berbagai jenis data untuk menjelaskan proses yang berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang. Kemampuan tersebut juga menjadi dasar untuk membaca perubahan lingkungan masa lalu yang dapat digunakan sebagai pembanding dalam mengkaji perubahan Bumi pada masa kini dan mendatang.

Dalam sesi diskusi, mahasiswa juga diajak memahami bahwa tidak setiap pola berulang pada batuan dapat langsung disebut sebagai siklus astronomi. Syaiful menjelaskan, interpretasi perlu divalidasi menggunakan data lain, salah satunya biostratigrafi.

Biostratigrafi dapat memberikan batasan umur sehingga pola yang ditemukan dapat dikaitkan dengan periode siklus astronomi tertentu. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa belajar bahwa identifikasi siklus dalam batuan tidak berhenti pada pengamatan pola, tetapi membutuhkan pengujian dengan data pendukung.

Mahasiswa Geologi FMIPA UI angkatan 2023, Nisrina, dalam sesi tanya jawab menanyakan kriteria penampang yang sesuai untuk penelitian siklostratigrafi. Menurut Syaiful, penampang dengan rekaman sedimen yang relatif kontinu dan ritmik lebih sesuai karena memungkinkan pola siklus diamati dengan lebih jelas. Sebaliknya, gangguan geologi atau proses sedimentasi yang bersifat episodik dapat menyulitkan interpretasi.

Pembelajaran mengenai siklostratigrafi menjadi salah satu cara FMIPA UI memperkenalkan mahasiswa pada metode analisis yang menggabungkan geologi, iklim purba, astronomi, dan analisis data. Bekal tersebut diperlukan untuk mengembangkan kajian kebumian yang tidak hanya menjelaskan bagaimana Bumi terbentuk dan berubah pada masa lalu, tetapi juga membantu memahami perubahan lingkungan yang berlangsung saat ini.

Share this to:
Facebook
LinkedIn
Telegram
X
WhatsApp