|

The Department of Biology
Faculty of Mathematics and Natural Sciences Universitas Indonesia
Depok, 29 September 2026 — Minyak jelantah yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan dan mengganggu saluran air. Persoalan tersebut mendorong Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) melalui Departemen Kimia mengajak masyarakat mengolah minyak jelantah menjadi produk rumah tangga bernilai guna melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) 2026 bertajuk Creative Home: Pengolahan Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi dan Anti-Nyamuk sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat Depok.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Sabtu (26/9/2026), diikuti 35 masyarakat dan kader PKK. Melalui program tersebut, FMIPA UI menerapkan konsep kimia secara sederhana untuk membantu masyarakat mengelola minyak jelantah sekaligus mengenalkan peluang pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Ketua Pengmas Creative Home 2026, Rika Tri Yunarti, S.Si., M.Eng., Ph.D., mengatakan pemanfaatan minyak jelantah dipilih karena proses pengolahannya relatif sederhana dan produk yang dihasilkan dekat dengan kebutuhan rumah tangga.
“Pengetahuan kimia kami terjemahkan menjadi praktik yang sederhana agar masyarakat dapat melihat bahwa minyak jelantah masih memiliki nilai guna dan dapat dikembangkan menjadi produk rumah tangga,” ujar Rika.
Salah satu produk yang diperkenalkan adalah lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah. Selain itu, tim juga memperkenalkan lilin dengan minyak atsiri serai wangi sebagai produk aromatik yang dapat membantu mengurangi keberadaan nyamuk.
Menurut Rika, pembuatan kedua produk tersebut tidak memerlukan peralatan laboratorium khusus. Sebagian besar peralatan dapat ditemukan di rumah, sedangkan bahan tambahan seperti beeswax, minyak jelantah yang telah dimurnikan, essence atau fragrance, dan pewarna relatif mudah diperoleh.

Dalam praktiknya, minyak jelantah terlebih dahulu melalui proses penjernihan menggunakan bleaching earth dan arang aktif. Proses tersebut membutuhkan waktu sekitar 48 jam sehingga telah dilakukan oleh tim Pengmas sebelum kegiatan berlangsung. Saat pelatihan, peserta kemudian mempelajari tahapan pemurnian dan mempraktikkan formulasi minyak yang telah disiapkan menjadi lilin.
Sebanyak tujuh kelompok menggunakan masing-masing sekitar 460 gram minyak jelantah untuk menghasilkan 14 lilin dalam wadah seloki berukuran 60 mililiter. Praktik tersebut menjadi bagian dari edukasi agar masyarakat memperoleh pengalaman langsung mengolah minyak jelantah dalam skala rumah tangga.
Selain praktik, peserta memperoleh pemahaman mengenai dampak pembuangan minyak jelantah terhadap lingkungan dan konsep ekonomi sirkular. Materi tersebut disampaikan Muhammad Ridwan, S.Si., M.Eng., Ph.D.
“Minyak jelantah tidak harus dipandang sebagai limbah yang sudah tidak memiliki manfaat. Dengan pengelolaan yang tepat, minyak tersebut masih dapat dimanfaatkan kembali sehingga kita dapat mengurangi potensi pencemaran sekaligus menghasilkan produk yang lebih bernilai,” ujar Ridwan.
Menurut Ridwan, penerapan konsep ekonomi sirkular dalam pengelolaan minyak jelantah dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga. Masyarakat tidak hanya diajak memahami dampak pembuangan minyak jelantah, tetapi juga melihat adanya peluang untuk mengolahnya kembali menjadi produk yang dapat digunakan.
Penerapan ilmu kimia dalam pengolahan minyak jelantah terlihat melalui sejumlah tahapan, antara lain penyaringan, adsorpsi, pemurnian, pencampuran, dan formulasi produk. Konsep tersebut diperkenalkan dengan pendekatan praktis agar dapat dipahami dan diterapkan kembali oleh masyarakat.
Materi mengenai teknik sederhana pengolahan dan pemurnian minyak jelantah disampaikan Aminah, M.Sc., Ph.D. Teknik tersebut menjadi pengetahuan dasar bagi masyarakat yang ingin melakukan pengolahan minyak jelantah dalam skala rumah tangga.

Program yang dikoordinasikan Dewangga Oky Bagus Apriandanu, S.Si., M.Si., Ph.D., tersebut juga melibatkan unsur masyarakat Kelurahan Depok, di antaranya Muhammad Hadi selaku Ketua RW 012, Sugiwati selaku Ketua Pokja III, dan Gita Afrianti selaku Ketua Kelompok Kerja (Pokja) PKK Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas.
Dari FMIPA UI, kegiatan turut dihadiri Bayu Ardiansah, S.Si., M.Si., D.Sc., selaku Ketua Program Studi Pascasarjana Departemen Kimia. Sementara dari Kelurahan Depok hadir Pramudya, S.Sos., Kasi Pemerintahan, Ketentraman dan Ketertiban.
Pada tahap ini, keberhasilan program tidak diarahkan pada produksi massal, melainkan pada peningkatan pemahaman dan keterlibatan masyarakat. Sebanyak 35 peserta mengikuti kegiatan praktik dalam kelompok dan diharapkan dapat menerapkan kembali pengetahuan tersebut, termasuk melalui kelompok PKK maupun komunitas masyarakat.
Melalui Creative Home 2026, Departemen Kimia FMIPA UI menunjukkan bahwa penerapan ilmu kimia dapat dilakukan di luar laboratorium untuk menjawab persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Minyak jelantah yang sebelumnya dipandang sebagai limbah diperkenalkan sebagai bahan yang masih dapat diolah menjadi produk rumah tangga dan dimanfaatkan kembali secara lebih bertanggung jawab.
